Teknik Budidaya Jambu Mete

jambu-mete
Masyarakat Indonesia, khususnya di daerah pedesaan pasti tidak asing dengan jambu mete. Meskipun masing-masing daerah memberi nama berbeda untuk tanaman ini. Misalnya orang jawa menyebutnya Jambu Monyet/Jambu mede, orang Bali menyebutnya (Jambu dwipa/jambu jipang/jambu monyet, orang Maluku menyebutnya boa frangsi, dan lain-lain. 

Jambu mete (Anacardium occidentale) adalah tanaman yang berasal dari daerah Amerika Selatan. Di daerah asalnya, tanaman ini tumbuh liar secara alami di lembah sungai Amazon. Namun beberapa ahli lainnya menyebut jambu mete berasal dari bagian Ceara atau dari Negara bagian Maranhao. Tanaman ini dapat tumbuh subur di daerah beriklim tropis dan sub-tropis seperti Indonesia. 

Ciri-ciri Jambu Mete

  1. Tanaman jambu mete memiliki akar tunggang dan akar serabut.
  2. Batang jambu mete merupakan batang sejati, berkayu dank eras
  3. Memiliki daun tunggal dan upihnya keras seperti kulit berbentuk bulat panjang hingga oval dan membulat atau meruncing pada bagian ujungnya
  4. Bunganya tumbuh pada ujung tunas atau ranting yang baru terbentuk. Bentuk bunganya beragam yaitu berbentuk piramida, kerucut dan tidak teratur. Berwarna putih saat mekar dan kemudian berubah menjadi merah muda.
  5. Buah jambu mete terdiri atas dua bagian yaitu buah sejati (kacang mete) dan buah semu (tangkai buah yang membesar.
Prospek Budidaya Jambu Mete
  • Jambu mete sangat prospektif untuk dikembangkan di Indonesia karena kondisi iklim di Indonesia yang sangat mendukung dan jambu mete memiliki daya adaptasi yang sangat luas terhadap berbagai faktor lingkungan.
  • Permintaan terhadap jambu mete semakin hari semakin meningkat
  • Kacang mete dan buah semu mete dapat diolah menjadi aneka produk makanan yang digemari oleh masyarakat.
  • Memiliki harga jual yang tinggi dan setiap tahunnya cenderung naik. 

CARA BUDIDAYA JAMBU METE


1. Pembuatan Bibit Jambu Mete
  • Bibit jambu mete dapat diperoleh dari kacang mete yang dijemur dibawah sinar matahari hingga kering
  • Seleksi biji mete tersebut dan diambil yang terbaik untuk calon bibit. Biji mete yang baik untuk bibit dengan kriteria sebagai berikut:
  • kondisi biji utuh (tidak cacat/luka),
  • berbentuk normal,
  • pilih yang berukuran sedang sekitar 6-12 g per butir,
  • memiliki rapat jenis tingi. Dapat diketahui dengan cara rendam biji mete ke dalam larutan gula dengan konsentrasi 20%. Biji yang tenggelam adalah biji yang memiliki kerapatan jenis tinggi. Dan biji yang terapung akan mengakibatkan tanaman kurang subur jika ditanam.
  • Simpan benih hasil seleksi selama 2-3 bulan sebelum ditanam sembari menyiapkan lahan.

2. Pembuatan Lahan persemaian 

Lahan persemaian dapat dilakukan dengan dua cara yaitu bedengan dan polybag. 
Bedengan:
Lokasi persemaian memiliki kriteria sebagai berikut:
  • Topografi tanah datar
  • Lokasi tidak terlindung oleh pepohonan
  • Memiliki sumber air yang cukup
  • Letaknya harus lebih tinggi dari lahan di sekitarnya agar tidak mudah tergenang air
  • Lokasi persemaian terletak dekat dengan lokasi penanaman
  • Bersih dari gulma dan tanaman lain yang merugikan
Pengolahan media bedengan
  • Olah tanah dengan menggunakan cangkul atau bajak sedalam 30 – 40 cm dan biarkan selama 2 minggu untuk diangin-anginkan dan terkena terik matahari bertujuan untuk menghilangkan gas-gas beracun dan membunuh kuman
  • Setelah 2 minggu olah lagi tanah tersebut dengan cara dicangkul tipis-tipis dan beri pupuk kandang secukupnya.
  • Buat parit dengan ukuran lebar 60cm dan panjang 5 m.
  • Buat atap diatas bedengan dengan rumput alang-alang atau daun kelapa.
Polybag:
  • Siapkan tanah yang subur dan pupuk kandang untuk mengisi polybag dan lakukan sterilisasi dengan cara dikukus terlebih dahulu selama 1 jam begitu juga dengan pupk kandang.
  • Campurkan pupuk kandang dan tanah yang sudah disterilisasi dengan perbandingan 1:1
  • Siapkan kantong polybag berukuran 30cmx40cm dan lubagi bagian samping dan dasarnya.
  • Isi kantong polybag dengan media semai hingga 90% penuh
  • Susun polybag tersebut pada bedengan yang telah diberi naungan
  • Polybag siap ditanami benih jambu mete.
3. Penanaman Benih ke media persemaian

Untuk penanaman benih mete di bedengan dapat dilakukan dengan cara:
  • Sebelum ditanam dibedengan atau polybag, binih mete direndam terlebih dahulu di air selama 24 jam untuk mempercepat perkecambahan
  • Bedengan disiram sampai basah sebelum ditanami benih.
  • Buat lubang sedalam 5 cm dan jarak antar lubang tanam 20 cm.
  • Tanam benih mete ke lubang tanam dengan kedudukan lekuk biji menghadap ke bawah.
  • Tanamkan benih ke lubang tanam hingga tersisa 2-3 cm dari permukaan tanah.
  • Tutup lubang dengan tanah tipis-tipis dan disiram air secukupnya untuk menjaga kelembaban tanah
Penanaman benih di polybag Pada dasarnya hampir sama dengan bedengan, hanya saja penanaman benih pada polybag cukup satu biji per polybag. 

4. Pembuatan Kebun Induk

Membuat kebun induk sangat perlu dengan tujuan untuk memperoleh sumber bahan tanaman berupa pohon induk dan yang bermutu dalam jumlah yang banyak. Adapun proses pembuatan kebun induk untuk jambu mete sebagai berikut:
  • Tentukan lokasi lahan dengan kondisi iklim dan tanah sesuai dengan yang dikehendaki tanaman mete
  • Pengolahan tanah dengan membuat lobang tanam berukuran 50cm x 50 cm x 50 cm dengan jarak 10m x 10m. biarkan lubang tersebut selama 1 bulan.
  • Lakukan penanaman bibit terpilih baik dari bedengan ataupun polybag pada lubang tanah tersebut. Caranya, bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam tepat di tengah-tengah kemudian ditimbun dengan tanah.
  • Lakukan pemeliharaan tanaman dengan pemupukan, pengairan, dan pengendalian gulma, perbaikan drainase, penyeragaman tanaman, serta pengendalian hama dan penyakit.
Yang perlu diperhatikan untuk budidaya jambu mete ini adalah penentuan saat tanam. Waktu terbaik untuk menanam adalah pada awal musim hujan sampai dengan pertengahan. Dengan demikian kebutuhan air untuk pertumbuhan bibit dapat tercukupi. 

5.    Pemeliharaan Tanaman 
  1. Lakukan penyiangan jika tumbuh rumput yang mengganggu pertumbuhan jambu mete. Penyiangan dapat dilakukan dengan cara manual yaitu dicangkul atau dengan cara kimiawi dengan melakukan penyemprotan herbisida.
  2. Lakukan pemupukan untuk menjaga kesuburan tanah. Pupuk yang baik adalah yang mengandung Nitrogen (N), Phospat (P), dan Kalium (K). Penempatan yang tepat adalah di seputar batang tanaman dengan cara gemburkan tanah disekitar tanaman sedalam 20cm dengan menggunakan garpu tanah kemudian sebar atau campur dengan tanah hingga rata.
  3. Lakukan penyiraman secara teratur untuk menjaga kelembaban tanah. Kebutuhan air sangat bervariasi, tergantung umur tanaman. Pada awal masa tanam membutuhkan air lebih banyak.
6. Pengendalian Hama dan Penyakit Jambu Mete

Hama
Hama yang cukup potensial menyerang jambu mete diantaranya: 

Ulat Kipas (Cricula trifenestrata Helfer)
Gejala serangan ulat ini adalah helaian daun jambu mete diserang habis dimakan sehingga tinggal tulang-tulang daunnya saja. Dalam kondisi parah, pembentukan daun muda terhambat karena habis dimakan oleh ulat tersebut. Akibatnya tanaman mete jadi gundul.
Cara mengatasi:
  • Pungut ulat-ulat yang berkelompok pada daun dengan cara memotong daun yang menjadi sarangnya, kemudian musnahkan dengan cara dibakar.
  • Penyemprotan pestisida
Kutu Daun (Helopeltis sp.)
Kutu daun menyerang daun, tunas muda, bunga, buah, dan biji muda. Hama ini menghisap cairan sel yang menyebabkan pertumbuhan daun, tunas muda, bunga, buah dan biji terhambat, mengkerut, dan berwarna kekuning-kuningan. Pada kondisi parah wujud jambu mete terlihat seperti terbakar.
Untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan memangkas bagian tanaman yang diserang dan membakarnya, atau bisa juga dengan menggunakan insektisida seperti Sevin dan Diedrin.

Penggerek batang dan Akar  (Plocaederus ferru-gineus L)
Gejala serangan ulat penggerek batang dan akar adalah adanya liang-liang kecil dan masa kayu yang cukup tebal berwarna kemerah-merahan bercampur cairan menyerupai lem. Pada fase selanjutnya tanaman akan tampak lemah, daun tanaman menjadi kuning dan berguruguran. Pada kondisi parah, dapat mengakibatkan tanaman menjadi mati.
Cara mengatasi nya adalah dengan mengambil telur-telur dan pupa dari kumbang yang terletak dalam sobekan-sobekan kulit kayu pangkal batang atau akar di atas tanah dan mengambil ulat-ulatnya kemudian dibakar. 

Penyakit Jambu mete
Penyakit yang sering dialami oleh jambu mete antara lain: 

Bibit Layu
Penyakit layu ini disebabkan oleh cendawan Phytophora pamivora butler, Fusarium sp., Pythium ultimum Tron., dan Cylindrocladium scoparium.
Cara pencegahan dan pengendalian
-    Perbaiki selokan drainase untuk mencegah genangan air pada musim hujan
-    Perbaiki jarak tanam yang sesuai untuk mencegah kelembaban tinggi
-    Pengolahan tanah secara intensif
-    Penggunaan mulsa untuk meningkatkan suhu tanah
-    Mencabut tanaman yang sakit dan membakarnya
-    Menggunakan obat kimiawi berupa fungisida
-    Penyemaian tidak telalu rapat

Mati Pucuk
Penyebab penyakit mati pucuk ini adalah cendawan Pellicularia salmomicolor atau Corticium salmonicolor dan Gleosphorium. Cendawan ini menyerang pucuk-pucuk ranting tanaman sehingga menyebabkan kematian pada pucuk tersebut.
Gejalanya adalah adanya bercak-bercak berwarna putih pada kulit berlapis-lapis menyerupai anyaman benang sutra.
Pencegahan dan pengendalian:
-    Pangkas cabang di bawah tempat infeksi dan bakar
-    Pemangkasan cabang/ranting yang telah tumbuh penuh agar tidak lembab
-    Mengatur kerapatan tanam yang sesuai
-    Penyemprotan fungisida

Busuk Kering pada buah dan Biji
Penyebab penyakit ini adalah cendawan Aspergillus Tamari, Penicillium Citirium, dan Lasiodiplodia theobramae.
Gejala yang ditimbulkan akibat penyakit ini adalah mengeluarkan cairan manis yang tidak normal yang kemudian buah menjadi busuk lunak. Pada fase selanjutnya buah dan gelondong mete yang terinfeksi akan mongering atau keriput sehingga busuk kering dan gugur.
Pencegahan dan pengendalian:
-    Mengambil buah dan gelondong mete yang sakit dengan segera dan memusnahkannya
-    Sanitasi kebun dan perbaikan saluran irigasi untuk mencegah kelembaban tinggi
-    Mengatur kerapatan tanaman
-    Penyemprotan fungisida

PANEN JAMBU METE
Tanaman jambu mete sudah mulai berbunga dan berbuah pada umur 2-3 tahun, tergantung pada asal bibit, kesuburan tanah, kondisi iklim dan perawatan. Hasil panen tertinggi biasanya dimulai pada tanaman berumur 8-10 tahun dan seterusnya.
Panen jambu mete memang butuh waktu yang cukup lama, namun setiap tahunnya buah jambu mete akan terus bertamabah lebat dan ini akan menjadi aset yang menguntungkan.

MANFAAT JAMBU METE
Hampir semua bagian dari jambu mete dapat dipergunakan dalam berbagai keperluan. Diantaranya:
  1. Kulit kacang jambu mete yang telah diambil bijinya dapat diambil minyaknya untuk bahan obat-obatan.
  2. Akar tanaman mete dapat dipergunakan sebagai bahan ramuan obat sariawan dan diabetes.
  3. Getah kulit batang dapat digunakan untuk bahan lem.
  4. Batang (pohon) mete dapat digunakan sebagai kayu untuk bangunan.
  5. Daun mete yang tua maupun yang muda dapat digunakan sebagai bahan sayuran atau obat.
  6. Tunas muda daun mete mengandung Vitamin C sehingga baik untuk lalap atau sayur.
  7. Kacang mete merupakan produksi utaman dari tanaman ini. Kacang ini dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan.
  8. Daun jambu mete yang sudah tua dapat dipergunakan untuk mengobati penyakit eksim dan penyakit kulit kronis.
Itulah beberapa teknik tentang budidaya jambu mete yang saya rangkum dari berbagai sumber. Semoga dapat bermanfaat.